Tradisi Pernikahan Tradisional Unik yang Ada di Indonesia

BSWF – Pernikahan bagi masyarakat Indonesia adalah sesuatu yang sakral sehingga ada prosesi yang harus dijalani oleh pasangan yang akan menikah secara adat. Bukan hanya sekedar formalitas, prosesi tersebut itu memiliki makna lho. Masing-masing suku memiliki tradisi tersendiri yang tidak dimiliki oleh budaya lainnya. Dengan lebih dari 300 suku yang ada di Indonesia, tentu ada banyak tradisi pernikahan unik yang bisa kita temui. Yuk, kita lihat tradisi pernikahan apa saja yang ada di Indonesia.

 

Midodareni (Jawa)

Buat kamu yamg orang Jawa, tentunya tradisi ini tidak asing lagi di telinga. Midodareni adalah sebuah tradisi yang dilakukan pengantin wanita di mana ia harus dipingit selama satu malam sebelum hari pernikahannya di dalam kamar bersama dengan barang-barang unik seperti kembang mayang, periuk berisi rempah-rempah, jeruk purut, minyak wangi, daun pandan yang diletakkan di bawah tempat tidur. Menurut tradisi zaman dahulu, tujuan dari ritual ini adalah agar pengantin perempuan mendapatkan “wahyu kencantikan”.

Saat menjalankan ritual ini, pengantin pria dan keluarganya akan datang ke rumah pengantin wanita di malam hari. Namun kedua mempelai tidak diperkenankan untuk bertemu.

Saat menjalankan ritual ini, pengantin wanita tidak boleh tidur.

 

Sawer Penganten (Sunda)

Sawer Penganten adalah sebuah tradisi pernikahan yang sarat akan doa dan harapan. Pada tradisi ini kedua mempelai diberikan wejangan melalui sebuah puisi yang sarat makna yang dinyanyikan dengan langgam Sunda oleh seorang Juru Sawer (wanita). Saat tembang puisi dilantunkan kedua pengantin akan diberikan sebuah bokor berisi uang koin, permen, bunga, dan beras kemudian menyebarkannnya kepada kerabat.

Masing-masing benda yang dilemparkan memiliki makna. Beras sebagai lambang dari kemakmuran. Permen sebagai lambang bahwa apapun yang dihadapi dalam kehidupan rumah tangga harus ditanggapi dan diselesaikan dengan manis. Uang lambang dari kemakmuran. Inti dari ritual ini adalah agar pengantin selalu diberkahi, mau membantu orang lain, saling mengasihi.

 

Malam Bainai (Minangkabau)

Jika mempelai wanita dari Jawa memiliki ritual midodareni untuk merayakan malam terakhirnya sebagai gadis lajang, maka mempelai wanita dari suku Minang memiliki Malam Bainai. Malam Bainai adalah prosesi di mana kuku tangan mempelai wanita diberi inai. Inai yang terbuat dari pacar cina yang ditumbuk halus merupakan lambang dari doa restu dari orang tua dan sesepuh keluarga kepada mempelai wanita.

 

Upacara Minum Teh (Tiong Hoa)

Tradisi yang satu ini berasal dari etnis Tiong Hoa. Dalam upacara yang khidmat ini keluarga kedua mempelai bertemu untuk meminum teh bersama. Upacara ini merupakan simbol dari upacara pamit mempelai perempuan kepada keluarganya karena ia akan ikut dengan suaminya. Dalam upacara minum teh, mempelai wanita akan menghidangkan teh kepada orang tua. Upacara ini juga bertujuan untuk menghormati orang tua dan leluhur.

 

Mangulosi (Batak)

Mangulosi atau memberikan ulos adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam pernikahan Batak. Masyarakat Batak percaya di dunia ini ada tiga sumber kehangatan yaitu matahari, api, dan ulos. Karena itu memberikan ulos dengan cara menyelimuti pundak kedua pengantin dalam satu ulos adalah simbol dari memberikan kehangatan dan juga doa-doa.

Mangulosi tepat dilakukan saat acara pernikahan berlangsung dan merupakan puncak dari seluruh kegiatan pesta ada Batak. Pemberian ulos dilakukan oleh kerabat dari kedua orang tua mempelai lelaki dan wanita.

 

Pernikahan Culik (Sasak)

Bisa dibilang tradisi pernikahan suku Sasak ini sangat unik dan mirip dengan tradisi pernikahan orang Sparta di Yunani pada zaman dulu. Seorang laki-laki diwajibkan menculik calon istrinya dari rumahnya. Tapi tentu saja penculikan di sini sifatnya bukan kriminal melainkan sudah diatur dalam adat.

Sebelum si lelaki datang ke rumah perempuan, mereka sudah membuat janji kapan terjadinya “penculikan”. Proses penculikan dilakukan pada malam hari agar tidak terjadi keributan. Setelah diculik maka si perempuan akan dititipkan ke rumah kerabat laki-laki selama beberapa hari. Kemudian keluarga perempuan akan melaporkan kehilangan putrinya ke kepala adat. Barulah setelah diberitahu siapa yang menculik maka dilangsungkan proses pernikahan berikutnya yang meliputi acara adat dan agama.

Let's connect!

We're a friendly bunch.

Guest? Potential Sponsor? Questions? Get in touch.

Balai Sudirman
Jl. Dr. Saharjo No.268
Menteng Dalam, Tebet
Jakarta Selatan
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12870
 
PHONE
(021) 8379162 info@balaisudirmanweddingfair.com
Parakrama Organizer
jl. Kelapa Gading II No. 2
Kramat Jati
Jakarta Timur
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13510
 
Phone
(021) 8092943 Saeful Saeful@parakramaorganizer.com ⁠+62 822-1777-1703⁠



BALAI SUDIRMAN
Jl. Dr. Saharjo No.268,
Tebet, Jakarta Selatan,
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12870